BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Jika kita membahas filsafat
pastinya berkaitan dengan alam pikiran manusia yang diolah menjadi suatu ilmu
pengetahuan yang memberi jawaban dari setiap pertanyaan yang ada di alam
pikiran manusia tersebut. Jadi jika kita mempelajari filsafat berati kita diajak
untuk berfikir secara Kritis, dipacu untuk berfikir untuk dalam menanggapi
berbagai hal sampai menmukan jalan keluarnya atau suatu kesmpulan.
Mahluk yang berfikir adalah
manusia. Seorang filsuf adalah seorang Ahli fikir. Setiap manusia berfikir.
Tetapi tidak semua manusia disebut filsuf. Dalam menganalogikan pernyataan ini
bisa kita ulas dari pernyataan berikut. “Sapi adalah binatang”. Tapi kalau
peryatan ini dibalik menjadi: “Binatang adalah Sapi”, jelas salah. Menjelaskan
bahwa pernyataan ini menganggap bahawa satu satunya yang disebut binatang
adalah sapi i. Padahal masih banyak jenis lain yang bisa disebut binatang.
Sapi,babi,monyetdiesebut binatang. Yang benar dari kedua pernyataan tersebut
ialah: “bianatang salah satunya adalah sapi”, jadi bukan “ binatang adalah
sapi.
Demikian juga dengan pernyataan
yang menjelaskan setiap manusia yang berfikir bukan berati seorang filsuf.
Memang berfilsafat itu pada dasarnya berfikir, tetapi berfikir tidak selalu
brfilsafat. Jadi yang disebut seorang filsuf menurut kriteria yang adaah adalah
seoarang yangsanggup berfikir secara Radikal, Uiversal,Konseptual,koheren, dan
Konsisten(Runtut), sitematis, komprehensif, bebas, bertnggung jawab.
B. Definisi Filsafat
1. Etimologi.
Berdasarkan etimologinya, kata
“filsafat” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani philosophia yang
terdiri dari dua kata, yaitu philein (mencintai) atau philia
(cinta) atau philos (sahabat, kekasih) dan sophia (kebijaksanaan,
kearifan). Jadi, filsafat dapat diartikan sebagai “cinta kebijaksanaan”. Orang
yang mempelajari serta mendalami filsafat disebut “filsuf”. Selain dalam bahasa
Indonesia, philosophia juga diserap ke dalam berbagai bahasa sehingga
akhirnya melahirkan beragam kata, diantaranya: falsafah dalam bahasa
Arab, filosofi dalam bahasa Belanda, dan philosophy dalam bahasa
Inggris.
2. Terminologi.
Secara terminologi,
pengertian filsafat (philosophy) menurut Concise Oxford English
Dictionary (Tenth Edition) adalah:
1.
Studi tentang hakikat dasar dari pengetahuan, kenyataan, dan keberadaan (eksistensi)
2.
Studi tentang dasar-dasar teoritis dari suatu cabang pengetahuan atau
pengalaman
3.
Suatu teori atau sikap yang memandu perilaku seseorang
Selain itu, para ahli
filsafat juga memberikan pendapatnya masing-masing mengenai pengertian filsafat
sebagai berikut:
1.
Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (Plato).
2.
Filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda (Aristoteles).
3.
Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha
untuk mencapainya (Marcus Tullius Cicero).
4.
Filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup
di dalamnya 4 persoalan, yaitu: (a) apakah yang dapat kita ketahui (dijawab
dengan Metafisika), (b) apakah yang boleh kita kerjakan (dijawab dengan Etika),
(c) sampai dimanakah pengharapan kita (dijawab dengan Agama), dan (d) apakah
yang dinamakan manusia (dijawab dengan Antropologi) (Immanuel Kant).
5.
Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan, yang
meliputi: (a) suatu sikap tentang hidup dan tentang alam, (b) suatu metode
pemikiran reflektif dan penyelidikan berdasarkan akal, (c) suatu perangkat
masalah, dan (d) suatu perangkat teori atau isi pikiran (Harold H. Titus).
6.
Filsafat adalah penjelasan yang rasional dari segala yang ada, penjajagan
(upaya) terhadap realitas yang terakhir (James K. Feibleman).
7.
Filsafat adalah sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan
secara radikal, sistematik, dan universal (Sidi Gazalba).
8.
Filsafat adalah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak
terikat tradisi, dogma, atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai
ke dasar-dasar persoalan (Harun Nasution).
9.
Filsafat adalah suatu ikhtiyar untuk berpikir radikal dalam arti mulai
dari radix suatu gejala dari akar suatu hal yang hendak dimasalahkan, dan dengan
jalan penjajagan yang radikal filsafat berusaha untuk sampai kepada
kesimpulan-kesimpulan yang universal (Fuad Hassan).
10 adalah
refleksi menyeluruh tentang segala sesuatu yang disusun secara sistematis,
diuji kritis, demi hakikat kebenarannya yang mendalam serta demi makna
kehidupan manusia di tengah-tengah alam semesta (Damardjati Supadjar).
E. Aliran-aliran Filsafat
Aliran-aliran
yang terdapat dalam filsafat sangat banyak dan kompleks. Di bawah ini akan kita
bicarakan aliran metafisika, aliran etika, dan aliran-aliran teori pengetahuan.
1. Aliran-aliran Ilmu Pengetahuan
Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan, bagaimana
manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku.
Pertama, golongan yang mengemukakan asal atau sumber
pengetahuan. Termasuk ke dalamnya:
v Rasionalisme,
yaitu aliran yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia
ialah pikiran, rasio dan jiwa manusia.
v Empirisme,
yaitu aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu berasal
dari pengalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap pancainderanya.
v Kritisisme
(transendentalisme), yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan
manusia itu berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu sendiri.
v Kedua,
golongan yang mengemukakan hakikat pengetahuan manusia. Termasuk ke dalamnya:
v Realisme,
yaitu aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambar yang
baik dan tepat dari kebenaran dalam pengetahuan yang baik tergambarkan
kebenaran seperti sungguh-sungguhnya ada.
v Idealisme,
yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripada
kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu
sekaliannya terletak di luarnya.
2. Aliran-aliran lain dari Filsafat
Di samping aliran-aliran di atas,
masih banyak aliran yang lain dalam filsafat. Aliran-aliran itu antara lain
ialah:
1. Eksistensialisme,
yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia
yang kongkret, yaitu manusia sebagai eksistensi, dan sehubungan dengan titik
tolak ini. maka bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi.
2. Pragmatisme,
yaitu aliran yang beranggapan bahwa benar dan tidaknya sesuatu ucapan, dalil,
atau teori, semata-mata bergantung pada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil
atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak di dalam kehidupannya.
3. Fenomenologi,
yaitu aliran yang berpendapat bahwa hasrat yang kuat untuk mengerti yang
sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat dicapai jika kita mengamati
fenomena atau pertemuan kita dengan realitas.
4. Positivisme,
yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat hendaknya semata-mata berpangkal
pada peristiwa yang positif, artinya peristiwa-peristiwa yang dialami manusia.
Aliran filsafat hidup, yaitu aliran yang berpendapat bahwa
berfilsafat barulah mungkin jika rasio dipadukan dengan seluruh kepribadian
sehingga filsafat itu tidak hanya hal yang mengenai berpikir saja, tetapi juga
mengenai ada, yang mengikutkan kehendak, hati, dan iman, pendeknya
A. Tokoh dan Pemikiran Filsuf Yunani
Kuno
1. Thales
(625-545 SM).
Thales berasal dari Miletus dan merupakan bapak
filsafat. Thales banyak berkelana untuk mencari ilmu pengetahuan, salah satu
tempat yang pernah dia kunjuni adalah Mesir, konon Thales pernah mengukur
tinggi piramada dengan mengukur tinggi bayanganya pada saat yang tepat ketika
panjang bayanganya sendiri sama dengan tinggi badanya. Gerhana yang terjadi di
Asia pada 28 mei 585 SM, menurut Heroditus merupakan sebuah ramalan oleh
Thales. Pada zamannya Thales dikenal sebagai salah satu dari tujuh filsuf yang
bijak, sehingganya dia dituntut untuk mencari tahu dan membicarakan mengenai
unsur-unsur pembentuk alam, setelah Thales mengamati dominasi peran air
dikehidupan manusia maka Thales beranggapan bahwa unsur pembentuk
alam tersebut adalah air. Thales-lah orang yang pertama mengerti
tentang unitas dalam pluralitas (kesatuan dalam perbedaan), karena menurut
Thales benda-benda mempunyai banyak bentuk akan tetapi memiliki satu unsur
pembentuknya yaitu air.
2. Anaximandros
(616-545 SM)
Meskipun Anaximandros adalah teman diskusinya
Thales, namun Anaximandros tidak sependapat dengan Thales mengenai unsur dasar
segala sesuatu, menurut Anaximandros jika perubahan, kelahiran dan kematian,
pertumbuhan dan kehancuran, disebabkan oleh konflik maka tidak dapat dijelaskan
mengapa ada benda-benda lain yang melebur menjadi air. Menurut Anaximandros, unsur dasar
dari segala sesuatu itu adalah to apeiron, substansi yang tak terbatas.
Anaximandros juga mengajarkan bahwa bumi itu bukan berbentuk piringan tetapi
berbentuk silinder pendek.
3. Anaximenes
(588-524 SM)
Anaximenes tidak menerima pendapatnya Anaximandros
yang terlalu metafisik, seharusnya menurut Anaximenes unsur pembentuk itu harus
bersifat zat, tetapi zat tersebut bukan seperti yan dikatakan Thales yakni air
karena air tidak terdapat pada api, menurut Anaximenes, unsur dasar pembentuk
dari segala sesuatu adalah udara. Udara tidak dapat dibagi,
namun dapat kelihatan dalam perenggangan. Ketika udara merenggang, maka menjadi
panas dan cenderung terbakar menjadi api. Yang perlu dicatat adalah ketika
Anaximenes mengatakan bahwa jika kita bernafas dengan mulut terbuka maka udara
akan panas, dan jika kita bernafas dengan mulut tertutup maka udara akan
dingin, dan pernyataan Anaximenes ini, terbukti setelah dilakukan eksperimen
oleh para ilmuwan modern.
4. Phytagoras
(580-500 SM)
Ajaran tentang bilangan adalah ajaran yang sangat
penting tentang Phytagoras. Menurut Phytagoras, prinsip segala sesuatu
itu adalah matematika, semua benda bisa dihitung dengan angka-angka, dan kita
dapat mengekspresikan banyak hal dengan angka. Phytagoras terpesona
oleh kenyataan bahwa interval-interval musik antara dua not pada lyra dapat
dinyatakan secara numeric. Seperti halnya harmoni musik yang bergantung pada
angka, maka harmoni alam semesta juga bergantung pada angka-angka. Menurut
Phytagoras dan para pengikutnya, bahwa sesungguhnya pusat jagad raya ini adalah
api. Api yang dimaksudkan oleh Phytagoras ini, yang kemudian dimodifikasi oleh
para ilmuwan sebagai matahari.
5. Heraclietus
(540-475 SM)
Heraclietus mengajarkan tentang kesatuan dalam
keberagaman, perbedaan dalam kesatuan. Ajaran Heraclietus ini pada prinsipnya
berbeda dengan Anaximander, jika menurut Anaximender bahwa hal-hal yang
beroposisi akan saling membentur, makanya timbulah ketidakadilan, dan hal itu
tidak boleh terjadi. Maka menurut Heraclietus konflik dari hal-hal yang
beroposisi itu merupakan esensial bagi eksistensi yang satu. Artinya bahwa menurut
Heraclietus konflik dari yang saling berseberangan itu akan sangat menentukan
keberadaan dari yang lainya, seperti halnya api yang memiliki sifat memangsa
benda yang terbakar olehnya, api akan mengalihkan semua benda kedalam dirinya,
namun tetapi tanpa benda-benda tersebut api tak lagi eksis. Api
adalah hakekat dari segala sesuatu menurut Heraclietus, ini adalah inti
ajaranya.
6. Parmenides
(540-470 SM)
Inti ajaran Parmenides adalah jika sesuatu itu ada maka
ada dua kemungkinan asalnya, yaitu bisa berasal dari ada dan bisa pula berasal
dari tidak ada. Bisa dianalogikan seperti ini : jika Allah itu ada maka
itu ada, dan jika ada yang mengatakan bahwa Allah itu tidak ada, maka
sesungguhnya itu ada karena sebelum kalimat itu ada, sudah terpikirkan olehnya
tentang Allah baru kemudian dia menyangkalnya. Yang tidak ada itu adalah ketika
kita tidak berpikir dan membicarakan tentang tidak ada. Apa yang dapat kita
bicarakan dan pikirkan itu pasti ada. Hanya “yang ada” itu “ada”.
7. Zeno
(490-430)
Zeno ada murid dari Parmenides. Yang bisa dikenal
dari Zeno adalah mengenai paradoxnya yang menyangkal tentang teori-teori
Phytagoras dan para pengikutnya yaitu paradoks dikotomi : sebuah benda bergerak
tidak akan pernah mencapai tujuan, pada awalnya menempuh perjalanan setengah
jarak, stelah itu dia harus menempuh seperempat jarak, seperdelapan,
seperenambelas, sepertiga puluhdua….. dan seterusnya hingga jumlah perjalananya
tidak terhingga. Paradoks Achilles dan kura-kura : Achilles dan
kura-kura melakukan lomba lari, meskipun begitu kura-kura diizinkan start lebih
awal, agar dapat menyamai kura-kura, Achilles menetapkan sasaran ke tempat
kura-kura saat ini berdiri, tetapi setiap kali Achilles bergerak maju,
kura-kura juga bergerak maju, setiap Achilles sampai ditempat kura-kura,
kura-kura sudah berjalan sedikit kedepan. Begitu seterusnya, sehingga Achill es
tidak dapat menyamai kura-kura dalam balapan. Paradoks Anak panah : misalnya
kita membagi waktu sebagai deretan masa kini, kemudian kita lepaskan anak panah.
Disetiap masa kini anak panah menduduki posisi tertentu di udara. Oleh karena
itu anak panah dapat dikatakan diam sepanjang waktu. Dan paradoks terakhir
yakni Stadion : terdapat tiga buah barisan benda A, B, dan C di tengah lapangan
stadion. Barisan A terletak diam di tengah lapangan, sementara B dan C masing,
terletak diujung kiri dan kanan A. Kemudian B dan C bergerak salin mendekati
dengan kecepatan yang sama (hendak bersejajar dengan barisan A) antara sebelum
dan sesudah, titik C palin kiri melewati dua buah B, tetapi cuma satu buah A.
Berarti waktu C untuk melewati B = setengah waktu untuk melewati A, padahal A
dan B adalah unit yang identik.
8. Empedocles
Empedocles mengemukakan bahwa unsure dasar dari segala-galanya adalah
empat anazir yakni tanah, udara, air dan api. Keempat unsur
ini tidak saling dipertukarkan, air tidak akan menjadi api, tanah tidak akan
menjadi udara. Penyatuan unsur-unsur ini yang menjadi benda-benda disekitar
kita. Dan lenyap jika terjadi pemusnahan unsur-unsur tersebut. Namun
unsur-unsur ini tidak ada awal dan tidak ada akhir. Penggabungan unsur-unsur
dan pemisahanya terjadi karena kekuatan cinta dan kebencian atau harmoni dan
kekacauan. Cinta atau harmoni yang menggabungkanya, dan kebencian atau
kekacauan yang memisahkan unsur-unsur tersebut. Tentang pengalaman inderawi,
Empedocles mengatakan, hal itu terjadi karena pertemuan antara unsur yang ada
pada manuasia dan unsur serupa yang ada diluarnya.
9. Anaxagoras
(500-240 SM)
Sumbangan terpenting Anaxagoras dalam dunia filsafat
adalah pemikiranya tentang rasio. Jika Empedocles mengatakan bahwa
jagad raya bergerak karena cinta dan kebencian, maka bagi Anaxigoras jagad raya
berputar karena rasio. Anaxigoras menerima teorinya Parmenides tentang ada dan
materi itu tidak akan binasa. Tetapi Anaxigoras tidak sependapat dengan
Parmenides ketika membicarakan mengenai unsur dasar, bukanlah empat unsur
(tanah, air, udara dan api) yang dasar pembentuk namun menurut Anaxigoras unsur
pembentuk itu banyak atau tidak terbatas.
10. Leocippus
Leocippus adalah pendiri ajaran atomisme yaitu
aliran yang berpendapat bahwa ada jumlah yang tidak terbatas dari unit-unit
individual yang dinamakan atom. Atom-atom itu tidak dapat dilihat dengan mata
telanjang karena terlalu kecil, atom-atom berbeda bentuk dan ukuran namun tidak
memiliki kualitas tertentu kecuali solid dan tidak dapat ditembus. Leocippus
mengakui bahwa ruang itu tidak rill sekaligus mengakui eksistensinya yang
berarti tidak rill. Seperti yang dikatakan Leocippus bahwa apa yang tidak ada sama
rillnya dengan apa yang ada. Jadi ruang kosong itu tidak bisa bersifat rill
tapi sama rillnya seperti tubuh. Inti ajaranya adalah atom-atom yang bergerak
pada ruang kosong adalah awal dari segala galanya.
B. FILSAFAT YUNANI KLASIK ( 400 S.M –
300 S.M )
a.
Sejarah
dan Perkembangan Filsafat Yunani Klasik
Disinilah zaman dimana para
filsuf besar Yunani yang melahirkan gagasan hebat. Dalam filsafat klasik
sudah mulai bertolak kepada manusia yang menjadi objek penelitian bukan lagi
kepada bumi. Lebih kritis dan rasional corak berfikirnya.
b.
Tokoh
dan Pemikiran Filsuf Yunani Klasik
1. Socrates
(470-399)
Seorang pemuda Athena seorang
filsuf besar yang menjadi guru dari Plato, dan Aristoteles. Socrates
melahirkan banyak gagasan filsafat mulai moral dan filsafat secara umum.
Filosof ini memiliki watak hebat ia rela minum racun demi mempertahankan sebuah
kebenaran. Saat itu Socrates dituduh pemikiran yang digagasnya merusak pemuda
Athena sehingga akhirnya ia dipaksa untuk meminum racun didepan pengikutnya.
2. Plato
( 427-347 SM)
Merupakan murid Socrates yang
dikenal sebagai filsuf yang sangat berpengaruh hampir semua ilmu pengetahuan
gagasan plato menjadi rujukan.Seperti ilmu fisika ,ekonomi politik, agama
dll. Gagasan plato mengatakan bahwa segala sesuatu hakekatnya adalah
ide.Sebuah kebenaraan adalah ide itu sendiri. Karya plato yang terkenal
adalah buku dengan judul republica buku itu memuat gagasan gagasanya. Sehingga
gagasan plato ini melahirkan aliran idealisme
3. Aris
toteles( 384-322 SM)
Lahir di Athena menjadi murid nya
plato sekaligus murid yang membangkang pada gurunya. Gagasan Aristoteles
berbeda dengan Plato yang idealis namun aristoteles condong Pragmatis.
Namun Aristoteles juga sangat berpengaruh dalam perkembangan khasanah ilmu
hingga sekarang. Kecenderungan berfikir saintik dengan metode empiris menjadi cirri
gagasan Aristoteles.
Filsafat ( Abad
Mula-mula ).
a.
Filsafat
Zaman Patriatik ( Bapa-bapa Gereja )
1. Sejarah dan Perkembangan Filsafat
Abad Pertengahan
Abad
pertengahan merupakan kurun waktu yang khas. Secara singkat dikatakan bahwa
dominasi agama kristen sangat menonjol. Perkembangan alam pikiran harus
disesuaikan dengan ajaran agama. Demikian pula filsafat, harus diuji apakah
tidak bertentangan dengan ajaran agama islam. Filsafat abad pertengahan
menggambarkan suatu zaman yang baru di tengah-tengah suatu perkumpulan bangsa
yang baru, yaitu bangsa eropa barat. Filsafat yang baru ini disebut skolastik.
Pada masa pertumbuhan dan perkembangan filsafat eropa ( sekitar lima abad )
belum memunculkan ahli pikir ( filosuf ), akan tetapi setelah abad ke-6 masehi,
baru muncul ahli pikir yang mengadakan penyelidikan filsafat.
Jadi,
filsafat Eropa yang mengawali kelahiran filsafat barat abad
pertengahan.Filsafat barat abad pertengahan ( 476-1492 M ) juga dapat dikatakan
sebagai abad gelap. Berdasarkan pada pendekatan sejarah gereja, saat itu
tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia. Manusia tidak lagi memiliki
kebebasan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Para ahli
pikir saat itu juga tidak mempunyai kebebasan berpikir. Apalagi terdapat
pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan agama ajaran gereja. Siapa pun
orang yang mengemukakannya akan mendapatkan hukuman berat. Pihak gereja
melarang diadakannya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap
agama. Karena itu, kajian terhadap agama ( teologi ) yang tidak berdasarkan
ketentuan gereja akan mendapatkan larangan ketat. Yang berhak mengadakan
penyelidikan terhadap agama hanyalah pihak gereja. Kendati demikian, ada juga
yang melanggar peraturan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian
diadakan pengejaran ( inkuisisi ).Patristik
berasal dari kata patres (bentuk jamak dari pater) yang berarti bapak-bapak.
Yang dimaksudkan adalah para pujangga Gereja dan tokoh-tokoh Gereja yang sangat
berperan sebagai peletak dasar intelektual kekristenan. Mereka khususnya
mencurahkan perhatian pada pengembangan teologi, tetapi dalam kegiatan tersebut
mereka tak dapat menghindarkan diri dari wilayah kefilsafatan.]Masa
Patristik dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik
Latin (atau Patristik Barat).
Bapak Gereja
terpenting pada masa itu antara lain Tertullianus (160-222), Justinus, Clemens
dari Alexandria (150-251), Origenes (185-254), Gregorius dari Nazianza
(330-390), Basilus Agung (330-379), Gregorius dari Nyssa (335-394), Dionysius
Areopagita, Johanes Damascenus, Ambrosius, Hyeronimus, dan Agustinus (354-430).Tertullianus,
Justinus, Clemens dari Alexandria, dan Origenes adalah pemikir-pemikir pada
masa awal patristik. Gregorius dari Nazianza, Basilus Agung, Gregorius dari
Nyssa, Dionysius Areopagita,dan Johanes Damascenus adalah tokoh-tokoh pada masa
patristik Yunani. Sedangkan Ambrosius, Hyeronimus, dan Agustinus adalah
pemikir-pemikir yang menandai masa keemasan patristik Latin.
Agustinus adalah
seorang pujangga gereja dan filsuf besar. Setelah melewati kehidupan masa muda
yang hedonistis, Agustinus kemudian memeluk agama Kristen dan menciptakan
sebuah tradisi filsafat Kristen yang berpengaruh besar pada abad pertengahan.
Agustinus
menentang aliran skeptisisme (aliran yang meragukan kebenaran). Menurut
Agustinus skeptisisme itu sebetulnya merupakan bukti bahwa ada kebenaran.
Menurut Agustinus, Allah menciptakan dunia ex nihilo (konsep yang kemudian juga
diikuti oleh Thomas Aquinos). Artinya, dalam menciptakan dunia dan isinya,
Allah tidak menggunakan bahan.
Filsafat
patristik mengalami kemunduran sejak abad V hingga abad VIII. Di barat dan
timur tokoh-tokoh dan pemikir-pemikir baru dengan corak pemikiran yang berbeda
dengan masa patristik.
PERTENGAHAN “ZAMAN SCHOLASTIK”
1) Scholastik Awal 800 – 1200 M
Ditandai oleh pembentukan metode yang
lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Yang tampak pada
permulaan ialah persoalan tentang universalia. Ajaran Agustinus dan
neo-Platonisme mempunyai pengaruh yang luas dan kuat dalam berbagai aliran
pemikiran. Pada periode ini, diupayakan misalnya, pembuktian adanya Tuhan
berdasarkan rasio murni, jadi tanpa berdasarkan Kitab Suci (Anselmus dan
Canterbury). Problem yang hangat didiskusikan pada masa ini adalah
masalah universalia dengan konfrontasi antara “Realisme” dan
“Nominalisme” sebagai latar belakang problematisnya. Selain itu, dalam abad
ke-12, ada pemikiran teoretis mengenai filsafat alam, sejarah dan bahasa,
pengalaman mistik atas kebenaran religious pun mendapat tempat.
2)
Scholastik
Pertengahan 1200 – 1300 M
Periode puncak perkembangan skolastik :
dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat Arab dan yahudi.
Filsafat Aristoteles memberikan warna dominan pada alam pemikiran Abad
Pertengahan. Aristoteles diakui sebagai Sang Filsuf, gaya pemikiran Yunani
semakin diterima, keluasan cakrawala berpikir semakin ditantang lewat
perselisihan dengan filsafat Arab dan Yahudi. Universitas-universitas pertama
didirikan di Bologna (1158), Paris (1170), Oxford (1200), dan masih banyak lagi
universitas yang mengikutinya. Pada abad ke-13, dihasilkan suatu sintesis besar
dari khazanah pemikiran kristiani dan filsafat Yunani. Tokoh-tokohnya adalah
Yohanes Fidanza (1221-1257), Albertus Magnus (1206-1280), dan Thomas Aquinas
(1225-1274). Hasil sintesis besar ini dinamakan summa (keseluruhan).
3) Scholastik Akhir 1300 – 1450 M
Periode skolastik Akhir abad ke 14-15
ditandai dengan pemikiran islam yang berkembang kearah nominalisme ialah aliran
yang berpendapat bahwa universalisme tidak memberi petunjuk tentang aspek yang sama
dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal. Kepercayaan orang pada kemampuan
rasio memberi jawaban atas masalah-masalah iman mulai berkurang. Ada semacam
keyakinan bahwa iman dan pengetahuan tidak dapat disatukan. Rasio tidak dapat
mempertanggungjawabkan ajaran Gereja, hanya iman yang dapat menerimanya.
C. Filsafat Zaman Renaissance /
Pencerahan ( 1400-1700 Masehi ).
Renaissance berarti kelahiran
kembali, yaitu lahirnya kebudayaan Yunani dan kebudayaan Romawi. Pada saat itu
gejala masyarakat untuk melepaskan diri dari kungkungan dogmatisme Gereja sudah
mulai tampak di Eropa. Abad pertengahan manusia tidak bisa berekspresi secara
bebas, manusia dininakbobokkan lebih kurang 1000 tahun lamanya.
Pada abad ke 14 dan 15 terutama di
Italia muncul keinginan yang kuat, sehingga memunculkan penemuan-penemuan baru
dalam bidang seni dan sastra, dari penemuan tersebut sudah memperlihatkan suatu
perkembangan baru. Manusia berani berpikir secara baru, antara lain mengenai
dirinya sendiri, manusia menganggap dirinya sendiri tidak lagi sebagai viator
mundi, yaitu orang yang berziarah di dunia ini, melainkan sebagai faber
mundi, yaitu orang yang menciptakan dunianya.
Zaman renaissance sering disebut sebagai sebagai zaman
humanisme, sebab pada abad pertengahan manusia kurang dihargai sebagai manusia,
kebenaran diukur berdasarkan kebenaran gereja, bukan menurut yang dibuat
oleh manusia. humanisme menghendaki ukuran haruslah manusia, karena manusia
mempunyai kemampuan berpikir, berkreasi, memilih dan menentukan, maka humanisme
menganggap manusia mampu mengatur dirinya dan mengatur dunianya. Ciri utama
renaissance dengan demikian adalah humanisme, individualisme, lepas dari agama.
Manusia sudah mengandalkan akal (rasio) dan pengalaman (empiris) dalam
merumuskan pengetahuan, meskipun harus diakui bahwa filsafat belum menemukan
bentuk pada zaman renaissance, melainkan pada zaman sesudahnya, yang berkembang
pada waktu itu sains, dan penemuan-penemuan dari hasil pengembangan sains yang
kemudian berimplikasi pada semakin ditinggalkan agama kristen karena semangat
humanisme. Fenomena tersebut cukup tampak pada abad modern.
Sesudah mengalami masa kebudayaan tradisional yang
sepenuhnya diwarnai oleh ajaran Kristiani,
orang-orang kini mencari orientasi dan inspirasi baru sebagai alternatif dari
kebudayaan Yunani-Romawi sebagai satu-satunya kebudayaan lain yang mereka kenal
dengan baik. Kebudayaan klasik ini dipuja dan dijadikan model serta dasar bagi
seluruh peradaban manusia.
Dalam dunia politik, budaya Renaissance berkontribusi
dalam pengembangan konvensi diplomasi, dan dalam ilmu peningkatan
ketergantungan pada sebuah observasi. Sejarawan sering berargumen bahwa
transformasi intelektual ini adalah jembatan antara Abad Pertengahan dan
sejarah modern. Meskipun Renaissance dipenuhi revolusi terjadi di banyak
kegiatan intelektual, serta pergolakan sosial dan politik, Renasaince mungkin
paling dikenal karena perkembangan artistik dan kontribusi dari polimatik seperti Leonardo
da Vinci dan Michelangelo, yang
terinspirasi dengan istilah "manusia Renaissance".
1.
Rasionalisme
Nuansa pemikiran yang
berkembang dalam zaman Renaissance dan aufklarung membawa ciri khas yang
berbeda. Ini terlihat melalui dua aliran besar yang menjadi titik tolak
munculnya berbagai macam aliran lain dalam perkembangan pemikiran filsafat
selanjutnya. Dua aliran yang di maksud adalah “ rasionalisme” dan “empirisme”,
yang memperlihatkan kontradiksi yang sangat menyolok.
Secara umum,
Rasionalisme merupakan pendekatan filosofis yang menekankan akal budi (rasio)
sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas dan bebas dari
pengamatan indrawi. Hanya pengetahuan yang di peroleh melalui akal yang
memenuhi syarat yang di tuntut oleh sifat umum, juga oleh semua pengetahuan
ilmiah.Hampir semua ahli pikir yang muncul pada zaman ini merupakan ahli
matematika, seperti Descrates, Spinoza dan Leibniz. Mereka mencoba menyusun
suatu sistem filsafat dengan manusia yang sedang berfikir.
Akal budi (rasio) menurut pendapat mereka merupakan alat terpenting bagi
manusia untuk mengerti dunianya dan mengatur hidupnya, namun demikian, tidaklah
berarti gagasan baru yang diperkenalkan renaissance berjalan mulus tanpa
rintangan. Rasionalisme mendapat tanggapan dari tokoh lain yang mencoba memperlihatkan
unsur rasa(hati) benih penting di bandingkan rasio.
2.
Empirisme
Doktrin empirisme adalah lawan dari rasonalisme yang
menganggap bahwa sumber seluruh pengetahuan harus di cari dalam
pengalaman.Tokoh empirisme pada umumnya memberikan tekanan lebih besar pada
pengalaman di bandingkan dengan filsuf-filsuf lain. Pengalaman indrawi menurut
mereka adalah satu-satunya sumber pengetahuan, bukan akal(rasio). Akal budi
sendiri tidak dapat memberikan pengetahuan kepada kita tentang realitas tanpa
acuan pengalaman indrawi dan panca indra kita. Informasi yang di peroleh indera
merupakan fundamen semua ilmu pengetahuan, sedang akal budi (rasio) mendapat
tugas untuk mengolah bahan-bahan yang di peroleh dari pengalaman, metode yang
di terapakan adalah metode induksi.
Aliran empirisme mengakui langkah yang telah
ditanamkan Francis Bacon (1561-1626), yang memberi tekanan kepada pengalaman
sebagai sumber pengenalan. Warisan ini diterima dan dikembangkan oleh
tokoh-tokoh terkemuka empirisme, seperti Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke
(1632-1704) dan D.Hume (1711-1776).
Sasaran filsafat menurut Thomas Hobbes adalah
fakta-fakta yang diamati, tujuannya mencari sebab-sebab, sedangkan alatnya
adalah pengertian-pengertian yang diungkapkan dalam kata-kata yang
menggambarkan fakta-fakta itu. Di dalam pengamatan disajikan fakta-fakta yang
dikenal dalam bentuk pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita.
Sasaran ini diperoleh melalui perantaraan pengertian tentang ruang, waktu,
bilangan dan gerak yang diamati pada benda-benda yang bergerak . Dapat dipahami
bahwa tidak semua yang diamati pada benda-benda itu bersifat nyata, yang
benar-benar nyata adalah gerak, sedang yang lainnya hanya nyata ada dalam
perasaan si pengamat saja. Segala yang ditentukan oleh hukum kausalitas (sebab-akibat),
termasuk di dalamnya kesadaran kita.
Epistimologi-empiris Hobbes mengajarkan bahwa
pengenalan atau pengetahuan diperoleh karena pengalaman dan pengalaman
merupakan awal segala pengetahuan. Segala jenis pengetahuan diturunkan dari
pengalaman, dan hanya pengalaman yang dapat memberi jaminan akan sebuah
kepastian .
Sementara itu, John Locke (1632-1704), menerima
keraguan sebagaimana diajarkan Descartes. Ia mencoba menggantikannya dengan
generalisasi yang berlandaskan pada pengalaman (induksi). Locke menolak asal
dari sumber pengetahuan, tetapi ia menerima kepastian matematis dan cara
penarikan metode induksi.
Menurut John Locke, semua jenis pengetahuan lahir
dari pengalaman. Hal ini menghapus kesan filsafat Plato tentang ide, sebab
tidak ada ide diturunkan, juga tidak ada innatea idea seperti yang dipahami
Descartes, yang ada hanyalah persetujuan umum sebagai sebuah argumen yang kuat.
Sebagai sebuah konsekuensi yang hendak diperoleh John Locke dalam sistem
pemikirannya, ia berusaha mempertemukan empirisme dengan rasionalisme.
Den gan lapangan ilmu pengetahuan,
Locke membedakan antara pengetahuan sensation (lahiriah) dengan reflection
(batiniah), keduanya saling berkaitan. Pengetahuan lahiriah menghasilkan
gejala-gejala psikis yang harus ditanggapi oleh pengetahuan batiniah.
Objek-objek tampil dalam kesadaran disebabkan oleh pengalaman lahiriah yang
telah diperoleh pengalaman batiniah, yang pada akhirnya manusia dapat
melahirkan gagasan-gagasan. Gagasan-gagasan ini oleh Hobbes dijadikan sebagai sasaran
utama bagi pengenalan .
Pengenalan yang dimaksud adalah pengenalan terhadap
ide-ide sebagai kesan yang dimiliki oleh subjek yang mengenal. Gagasan-gagasan
tunggal yang dimiliki dari pengalaman batiniah olehnya dianggap objektif, sebab
dikenal dalam kesadaran sebagaimana adanya. Akan tetapi Locke menganggap semua
gagasan tunggal dari pengalaman lahiriah adalah benar, sejauh gagasan itu
disebabkan oleh realitas yang ada di luar diri kita serta hadir dalam
kesadaran.
Implikasi dari teori pengenalannya, Locke dalam
filsafat etikanya menolak adanya pengertian kesusilaan (seperti perintah tuhan
yang harus ditaati supaya tidak dinilai sebagai pendosa) sebagai bawaan tabiat
manusia. Baginya, kebebasan kehendak adalah hak asasi manusia dalam menentukan
apa yang akan dilakukan. Hal ini semata-mata karena pandanagan dan pertimbangan
rasional, bukan paksaan dari luar. Atas dasar ini pula Locke menentang bentuk
pemerintahan negara Absolut dan juga menentang kekuasaan negara atas agama.
Negara tidak boleh memeluk agama dan negara juga tidak berhak memerintahkan
atau meniadakan dogma-dogma.
Tiap warga negara bebas dalam soal
keagamaan.Terlihat bahwa Locke filsuf teistis. Memang agama Kristen merupakan
agama yang paling masuk akal dibanding dengan agama-agama lain, karena
dogma-dogma hakiki agama dapat dibuktikan dengan akal bahkan pengertian tentang
Tuhan disusun melalui pembuktian-pembuktian, yang berpangkal pada eksistensi
manusia sebagai makhluk yang berakal, bukan pada pembuktian adanya Tuhan.
Tokoh lain adalah D. Hume (1711-1776), seorang
empiris yang konsisten. Dalam karya terbesarnya, Hume memperkenalkan metode
eksperimental sebagai dasar menuju subjek-subjek moral dengan mengupas panjang
lebar mengena emosi manusia dan prinsip-prinsip moral.Apabila merujuk kepada
era perkembangan filsafat, tokoh rasionalisme seperti Descartews dan John Locke
dapat tergolong filsuf abad 17 yang dikenal dengan zaman barok (renaissance),
sedang D. Hume termasuk filsuf abad 18 yang dikenal dengan Zaman Fajar Budi
(aufklarung).
3.
Kantianisme
Sejarah filsafat adalah sejarah pertarungan akal dan
hati (iman) dalam berebut dominasi dan mengendalikan jalan hidup manusia.
Kadang-kadang akal yang menang, tetapi di waktu lain iman yang menang mutlak
dan keduanya membahayakan hidup manusia. Sebenarnya yang menguntungkan hidup
manusia adalah apabila akal dan iman mendominasi hidup manusia secara seimbang.
Terdapat sekurang-kurangnya tiga filosof besar dalam masalah ini yaitu:
Sokrates yang berhasil menghentikan pemikiran sufisme dan menundukkan akal dan
iman pada posisinya. Descrates yang berhasil menghentikan dominasi iman
(kristen) dan menghargai kembali akal. Kant yang berhasil menghentikan sufisme
modern untuk untuk menundukkan kembali akal dan iman pada kedudukan masing-
masing. Dalam kerangka inilah agaknya Kant mendapat tempat yang lebih lumayan
dalam sejarah filsafat. Nama lengkapnya Immanuel Kant (1724-1804) adalah salah
seorang kritikus dan pemikir besar di Barat. Dia dengan gigih berupaya
mendamaikan pertentangan yang terjadi antara rasionalisme daengan empirisme.
Kalau di timur al-Ghazali dikenal sebagai tokoh yang sebanding dengannya, yang
mampu menghapus kekacauan dalam agama disebabkan kerancuan pemahaman mengenai
filsafat.
Kant mencoba merumuskan kebenaran ilmu pengetahuan
melalui dua paham yang bertentangan, yakni rasionalisme dan empirisme. Ia
berpendapat bahwa pengetahuan adalah hasil kerjasama dua unsur, yakni
pengalaman dan kearifan akal budi. Pengalaman indrawi adalah adalah unsur a
posteriori (yang datang kemudian), sedangkan akal budi merupakan unsur a priori
(yang datang lebih dulu)
Kedua aliran bersebrangan ini hanya mengakui salah
satu unsur saja sebagai sumber pengetahuan, sehingga menjadi tidak seimbang.
Ketidakseimbangan ini diselesaikan Kant dengan membedakan keben,aran menjadi 3
macam, kebenaran akal budi, kebenaran rasio dan kebenaran inderawi .
4.
Idealisme
Idealisme mempunyai argumen epistimologi tersendiri.
Oleh karena itu tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung
pada spirit (roh). Argumen yang diajukan bahwa objek-objek fisik pada akhirnya
adalah ciptaan Tuhan. Argumen orang-orang idealis mengatakan bahwa objek-objek
fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit . Idealis secara umum
berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah madzhab epistimologi yang
mengajarkan bahwa pengetahuan deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya.
Lawan rasionalisme dalam epistimologi ialah empirisme yang mengatakan bahwa
pengetahuan bukan dari akal, melainkan melalui pengalaman empiris.
Aliran idealisme ini diwakili oleh beberapa tokoh,
diantaranya J.G.Fitche (1762-1914), F.W.S.Schelling (1775-1854), dan F.Hegel
(1770-1031).
J.G.Fitche lahir di Rilsaammenau, Jerman pada tahun 1762, Filsafat Fitiche
adalah filsafat pengetahuan yang sekarang dikenal dengan sebutan epistimologi.
Ia membedakan pengetahuan membedakan pengetahuan menjadi dua, pengetahuan teoritis
dan pengetahuan praktis.Schelling lahir di Leonberg pada tahun 1775. Dia
belajar teologi protestan di Tubingen, ketika usia masih remaja ia sudah
menerbitkan berbagai tulisan-tulisan yang sangat penting. Schelling juga
menjadi guru besar untuk ilmu alam dan filsafat di Leipzing Jena . Corak
berfikir Schelling di masa akhir hidup sangat berbeda dengan masa mudanya.
Biasanya dibedakan 4 periode dalam pikiran Schelling, yaitu:Periode filsafat
alam, Periode sistem idealism, Periode sinkretisme dan Periode teosofi.
5.
Positivisme
Pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang
berdiri sendiri. Ia hanya menempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja
sama. Artinya ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memasukkan perlunya
eksperimen dan ukuran-ukurannya. Jadi pada dasarnya positivisme itu sama dengan
empirisme dan rasionalisme. Hanya bedanya empirisme menerima pengalaman
batiniah sedangkan positivisme membatasi pada pengalaman objektif saja .
Pelopor utama positivisme adalah Auguste Comte
(1798-1857), seorang filsuf perancis yang besar pengaruhnya terhadap
perkembangan sains dan teknologi modern.
6.
Pragmatisme
Pragmatisme merupakan aliran yang inti filsafatnya
adalah pragmatik dan menentukan nilai pengetahuan berdasarkan kegunaan
praktisnya. Pragmatisme kritis terhadap spekulasi metafisik dalam meraih
kebenaran. Dalam pragmatisme, realitas objektif diidentikkan dengan pengalaman
dan pembagian pengetahuan ke dalam subjek dan objek hanya dilakukan di dalam
pengalaman. Tentang logika, aliran ini jatuh kepada irrasionalisme. Pragmatisme
juga menganggap hukum-hukum dan bentuk-bentuk logika seperti fiksi-fiksi yang
berguna.
William James (1842-1910), salah satu yang populer
dalam aliran ini, mengatakan di dalam bukunya The Meaning of Truth, bahwa tidak
ada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bera yang kisifat tetap dan yang
berdiri lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan
segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa
berubah, karena di dalam praktek, apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi
oleh pengalaman berikutnya .
7.
Fenomenologi
Ahli fenomenologi yang pertama dan penting adalah
Edmund Husserl (1859-1938) yang memulai karir filsafatnya dengan suatu buku
tentang dasar-dasar ilmu hitung, yang sekarang terutama terkenal dengan kritik
Frenge yang sangat kejam terhadapnya. Tulisan Hasserl yang paling menarik
perhatian adalah Logical Investigation (1900-1901). Idea for a Pure
Phenomenology (1913) dan Corestian Meditations (1929) .
Husserl dikenal dengan doktrin ajarannya tentang
“fenomenologi murni’’. Dalam menjelaskannya ia menggunakan “metode reduksi
fenomenologis’’. Ada prioritas ilmu fenomenologi di atas ilmu fisika dan
psikologi apapun. Fenomenologi merupakan bentuk mendasar dari ontologi. Hal ini
terlihat dari gaya fenomenologisnya Heidegger tentang doktrinnya Dasein. Hasil
dari analisis fenomenologi bahwa esensi Dasein terletak pada eksistensinnya.
Penjelasan Heiddeger tentang Dasein, yang mendahului penjelasannya tentang
segala yang ada, membawa kepada pembicaraannya tentang esistensi manusia,
sehingga Heiddeger lebih tepat di golongkan kedalam kelompok eksistensialisme.
8.
Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran pemikiran yang
menekankan bahwa sesuatu itu ada. Berbeda dengan esensi, yang menekankan
keapaan sesuatu. Lebih jauh eksistensi adalah kesempurnaan. Dengan
kesempurnaan, sesuatu menjadi suatu eksisten. Eksisitensialisme merupakan
sebuah gerakan filosofis yang menentang esensialisme. Pusat pertahiannya adalah
situasi manusia. Segala gejala berpangkal pada eksisitensi dan pandangan mereka
relatif modern dalam filsafat meskipun benih-benihnya sudah ada dalam filsafat
Yunani dan Zaman Pertengahan.[1]
D. Sejarah dan Perkembangan serta
Tokoh Filsafat Modern
Akhir abad ke 16
Eropa memasuki abad sangat menentukan dalam dunia perkembangan filsafat, sejak
Descartes, Spinoza dan Leibniz mencoba untuk menyusun suatu sistem filsafat
dengan dunia yang berpikir dalam pusatnya, yaitu suatu sistem berpikir
rasional. Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason)
adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.
Rasionalisme pada dasarnya ada dua macam, yaitu dalam bidang agama dan
filsafat, dalam agama rasionalisme adalah lawan autoritas. Sementara dalam
bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme. Rasionalisme dalam bidang
agama biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama, rasionalisme dalam
filsafat berguna sebagai teori pengetahuan.
Sejarah
rasionalisme pada esensialnya sudah ada sejak Thales ketika merumuskan
filsafatnya, kemudian pada kaum sofis dalam melawan filsafat Socrates, Plato
dan Aristoteles, dan beberapa filsuf sesudahnya. Dalam abad modern tokoh utama
rasionalisme adalah Rene Descartes, sebab Descarteslah orang yang membangun
fondasi filsafat jauh berbeda bahkan berlawanan dengan fondasi filsafat abad
pertengahan. Dasar filosofis utama Descartes adalah bahwa perkembangan filsafat
sangat lambat bila dibandingkan dengan laju perkembangan filsafat pada zaman
sebelumnya. Ia melihat tokoh-tokoh gereja yang mengatasnamakan agama telah
menyebabkan lambatnya perkembangan filsafat. Descartes ingin melepaskan dari
dominasi gereja dan mengembalikan pada semangat filsafat Yunani, yaitu filsafat
yang berbasis pada akal. Dengan demikian corak utama filsafat modern yang
dimaksud di sini adalah dianutnya kembali rasionalisme seperti pada masa Yunani
kuno. Rasionalisme yang dikembangkan oleh Descartes, kemudian dikembangkan lagi
oleh Spinoza, Leibniz dan Pascal.
E. Filsafat Post-Modern
a. Sejarah dan Perkembangan Filsafat
Post-Modern
Filsuf yang
terkenal salah satunya adalah Auguste Comte. Pada masa ini teks menjadi tema
sentral diskursus para filsuf (Hamdan Akrumullah). Auguste Comte terkenal dengan aliran
pisitivismenya yang berpangkal pada Kant. Menurut Burhanuddin Salam, Auguste
Comte menjadikan positivisme suatu sistem di mana sosiologi memperoleh
kedudukan yang istimewa. Menurut Comte, budi manusia berkembang dari tahap
teologis (segala sesuatu dijelaskan dengan kekuasaan ilahi) melalui tahap metafisik (kekuasan
ilahi menjadi esensi atau kekuatan abstrak) ke tahap akhir positif (hanya
fenomena dan keterkaitan antarfenomena yang diperhitungkan. Segala sesuatu di
luar pengalaman tidak relevan (Richard Osborne dalam P. Hardono Hadi,
2005:135).
Orang yang
mempelajari filsafat semakin tidak terhitung, sehingga banyak filsuf-filsuf
yang terabaikan. Namun demikian, filsafat semakin berkembang seiring dengan
perkembangan manusia. Hasil dari filsafat post-post modern, post-post-post
modern adalah munculnya cabang-cabang khusus filsafat. Cabang-cabang khusus
tersebut lebih dikenal dengan ilmu bidang seperti; fisika, matematika, biologi,
dsb. Hasil pemikiran dalam berfilsafat menghasilkan teori-teori yang sampai
saat ini terus dikembangan, diantaranya adanya pembagian kategori, analitik,
dsb. Aliran-aliran dalam filsafat
semakin berkembang sesuai dengan objek yang didefinisikan. Ada aliran
utilitarian, kapitalisme, hedonisme, instanisme, dan lain sebagainya:
1.
Pragmatisme
Pragmatisme adalah mashab pemikiran filsafat ilmu
yang dipelopori oleh C.S Peirce, William James, John Dewey, George Herbert
Mead, F.C.S Schiller dan Richard Rorty. Tradisi pragmatisme muncul atas reaksi
terhadap tradisi idealis yang dominan yang menganggap kebenaran sebagai entitas
yang abstrak, sistematis dan refleksi dari realitas. Pragmatisme berargumentasi
bahwa filsafat ilmu haruslah meninggalkan ilmu pengetahuan transendental dan
menggantinya dengan aktifitas manusia sebagai sumber pengetahuan. Bagi para
penganut mashab pragmatisme, ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah sebuah
perjalanan dan bukan merupakan tujuan.
10
Utilitarian
Utilitarian
adalah paham yang berdasarkan atas asas manfaat.
11
Kapitalisme
Kapitalisme adalah paham yang berdasarkan kekuasaan/
dibangun berdasar pemodalan.
12
Hedonisme
Hedonisme adalah
paham yang hanya mengejar kenikmatan dunia.
b. Tokoh dan Pemikiran Filsuf
Post-Modern
Tokoh-tokoh pemikir postmodern ini terbagi ke dalam
dua model cara berpikir yakni dekonstruktif dan rekonstruktif. Para filsuf
sosial berkebangsaan Prancis lebih banyak mendukung cara berpikir postmodern
dekonstruktif ini. Para pemikir Perancis itu antara lain: Friedrich Wilhelm
Nietzsche sche, ean Francois Lyotard, Jacques Derrida, Michel Foucault, Pauline
Rosenau, Jean Baudrillard ,dan Richard Rorty. sementara pemikiran postmodern
rekonstruktif dipelopori oleh Teori Kritis Mazhab Frankfurt seperti: Max Horkheimer,
Theodor W Adorno, yang akhirnya dilengkapi oleh pemikiran Jurgen Habermas.
1.
FriedrichWilhelm Nietzschesche (1844-1900)
Lahir di Rochen, Prusia
15 Oktober 1884. Pada masa sekolah dan mahasiswa, ia banyak berkenalan dengan
orang-orang besar yang kelak memberikan pengaruh terhadap pemikirannya, seperti
John Goethe, Richard Wagner, dan Fredrich Ritschl. Karier bergengsi yang pernah
didudukinya adalah sebagai Profesor di Universitas Basel. Menurutnya manusia
harus menggunakan skeptisme radikal terhadap kemampuan akal. Tidak ada yang
dapat dipercaya dari akal. Terlalu naif jika akal dipercaya mampu memperoleh
kebenaran. Kebenaran itu sendiri tidak ada. Jika orang beranggapan dengan akal
diperoleh pengetahuan atau kebenaran, maka akal sekaligus merupakan sumber
kekeliruan.
2.
Jacques Derrida.(Aljazair, 15 Juli 1930–Paris, 9 Oktober 2004)
Seorang filsuf Prancis keturunan Yahudi dan dianggap sebagai pendiri ilmu
dekonstruktivisme, sebuah ajaran yang menyatakan bahwa semuanya di-konstruksi
oleh manusia, juga bahasa. Semua kata-kata dalam sebuah bahasa merujuk kepada
kata-kata lain dalam bahasa yang sama dan bukan di dunia di luar bahasa.
Derrida dianggap salah satu filsuf terpenting abad ke 20 dan ke 21.
Istilah-ilstilah falsafinya yang terpenting adalah dekonstruksi, dan
différance..Dekonstruksi, Istilah dekontruksi untuk pertama kalinya muncul
dalam tulisan-tulisan Derrrida pada saat ia mengadakan pembacaan atas
narasi-narasi metafisika Barat. Jacques Derrida menunjukkan bahwa kita selalu
cenderung untuk melepaskan teks dari konteksnya. Satu term tertentu kita
lepaskan dari konteks (dari jejaknya) dan hadir sebagai makna final. Inilah
yang Derrida sebut sebagai logosentrisme . Metode dekonstruksi merupakan proyek
filsafat yang berskala raksasa karena Derrida sendiri menunjukkan bahwa
filsafat barat seluruhnya bersifat logosentris. Dengan demikian, dekonstruksi
mengkritik seluruh proyek filsafat barat.
Komentar
Posting Komentar